Skip to main content

Meyakinkanmu Hingga Kau Marah

Jika tangisanku bisa meredakan amarahmu maka aku takkan menangis, karena aku melihat kamu begitu jujur saat kau marah kepadaku. Setiap yang kau katakan saat marah adalah aku apa adanya. Keburukanku. Aku jadi tahu apa yang tidak pernah kau ungkapkan dari keburukanku.

Kamu tahu, selama ini aku selalu menunggu kamu mengatakan hal yang sebenarnya tentang diriku. Sebab aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu tentang aku dan sifat burukku yang mungkin saja sering melukai perasaanmu selama ini. Jujur aku sangat mengharapkan itu dari kamu. Aku tidak mau kamu hanya selalu menilaiku dari sisi baikku saja tanpa melihat dan menilai dari sisi lainku yang buruk. Dan aku ingin kamu memberitahukan itu kepadaku. Kenapa? Agar aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan untuk memperbaiki diri ini untuk membahagiakanmu kelak.

Percayalah apa yang kulakukan ini bukan maksudku untuk mengakhiri hubungan kita ini, bukan! Justru aku ingin setelah ini kita jadi memiliki hubungan yang lebih baik lagi dan lebih bisa menahan diri untuk tidak saling menjelekkan dibelakang. Aku nggak mau ada kesan seolah-olah kita ini hanya sebatas berhubungan dan saling memperlihatkan yang baik-baik saja, dan berusaha menyembunyikan keburukan kita. Toh kita tidak ingin membina hubungan yang singkat kan? Kita ingin hubungan ini bisa berjalan selama mungkin kalau bisa sampai akhir hayat kita. Aku menginginkan itu. Ku harap kau mengerti niatku ini. Dan aku akan jelaskan semuanya nanti jika kamu sudah reda dari balutan emosi yang saat ini sedang menderamu.

Ku pikir jika ku jelaskan saat ini tak akan gunanya, karena kamu tidak akan mudah untuk mengerti. Kamu mungkin belum bisa menerima penjelasanku. Kamu mungkin masih ingin melampiaskan kekesalan dan kemarahanmu kepadaku. Jadi percuma saja jika saat ini aku jelaskan. Aku janji setelah kamu reda dari amarahmu nanti aku akan segera menemuimu dan menjelaskan semuanya kepadamu tanpa satupun yang akan aku tutup-tutupi.

Sekarang baiknya kamu pulang saja, atau lakukanlah hal yang kamu suka terserah kamu. Tapi jangan sampai kamu membenamkan dirimu dalam penyesalan dan kekesalan yang terlalu dalam. Itu tidak baik untuk dirimu sendiri dan kesehatan pikiranmu. Jauhkan dari prasangka buruk kepadaku.

Oke. Cukup sekian dan terimakasih. Siapa yang mau aku bikin marah. Silahkan daftar segera. Ditutup tanggal 11-11-2011, jam 11.11 WIB.


Baca juga :

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

A ku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!" Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku. Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa. Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang t...

Aku Tak Habis Pikir

Aku Tak Habis Pikir Di dunia ini segala sesuatu berjalan dengan sangat teratur, kata orang yang memang mengamati segala sesuatunya dari kacamata alam semesta jagat raya dan seisinya. Kalau yang mengatakan sebaliknya biasanya orang tersebut sedang mengalami krisis keduniawian/ kebendaan/ kematerian, dimana kemampuan matanya memandang hal di dunia ini hanya sebatas jangkauan panca indera yang notabene sangatlah teramat terbatas sekali. Keteraturan yang ada di alam ini hanya bisa diamati dengan penglihatan secara global menyeluruh dengan melibatkan berbagai peralatan canggih, bahkan harus sangat canggih baik peralatan dari luar diri kita maupun peralatan yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri kita manusia. Peralatan canggih dari luar diri kita tentu merupakan alat yang bisa menjangkau secara maksimal (sesuai era/zaman yang sedang berjalan) objek-objek yang menjadi bahan pengamatan yang sistematis dan berkesinambungan dari dari jaman sebelumnya hingga detik ini (sekarang/ waktu yang...

Lelahku Bertumpu Pada Awan

  Tak lama berselang aku dalam kegelapan, Aku terlelap dalam keheningan, Terpuruk dalam keheningan, Terhempas ku dalam kehampaan, Tak terlukiskan betapa tak nyamannya ruangku kini, Aku kehabisan nafas kehidupan yang sebenarnya. Langkah kakiku bak tak menapak di permukaan tanah, Laksana terbang tanpa arah dan tujuan, Aku terbang ke sana-kemari entah sampai kapan, Tak kurasakan dekatnya ujung harapan kan datang, Belum ku cium aroma keindahan yang pernah kuharapkan, Semakin terasa jauh saja kesunyian ini menjeratku. Aku sebenarnya berusaha tuk tak hanya diam, Tapi sejauh kaki ku melangkah yang kudapati hanya kelam, Tak terpapar jelas masa depan itu kapan datang, Berlari ku hanya di tempat itu-itu saja, Berlaluku tak melampaui batas mimpi dan anganku, Aku sampai bosan merasakan ini semua. Dan angin perubahan dimana-mana di dengungkan, Tapi kau lihat saja aku masih tak kemana, Aku masih di sini bersama sang fajar yang terkadang hadir menemaniku, Jika malam berganti dengan sang bula...