Skip to main content

Imajinasi Liar itu Tiba-Tiba Saja Muncul Tanpa Di Duga Dan Seolah Tak Bisa Untuk Kukendalikan Lagi Keluar Begitu Saja

ARI WINDARTO - Imajinasi Liar itu Tiba-Tiba Saja Muncul Tanpa Di Duga Dan Seolah Tak Bisa Untuk Kukendalikan Lagi Keluar Begitu Saja


Aku seolah sedang berada dalam alam mimpi saat aku berhadapan muka dengan dunia maya. Banyak hal yang aku bisa jumpai di dunia yang sebenarnya kalau kulihat hanya di bingkai oleh dimensi layar monitor komputer yang lebarnya tak lebih dari 17 inchi.
Tapi sungguh mengherankan dalam bingkai yang nampak sempit ini aku bisa menerawang berbagai hal dari ujung dunia manapun. Lalu lintas informasi kudapatkan begitu cepat dan deras memenuhi kepalaku sampai aku pusing menerimanya. Terlalu banyak dan terlalu luas ruang penyimpanan yang ku butuhkan jika aku harus menyerap semua informasi yang ada di dunia maya.

Semua di tentukan oleh keingin tahuan yang begitu besar akan sesuatu hal, yang ternyata sesuatu itu bukan cuma satu tapi banyak bahkan bisa di bilang sangat banyak dan luas. Ketika membuka satu halaman baru di situ di suguhkan berbagai hal yang menarik minatku. Dan di sampaing kanan, kiri, atas ada hal-hal lain yang di tampilkan begitu rupa sehingga memancingku untuk menengoknya. Dan yang terjadi hal yang baru saja ku buka itu ternyata juga semakin menaarikku untuk melihatnya.

Aku lupa dengan tujuanku semula untuk hanya mencari sebuah informasi yang aku butuhkan. Aku malah terus tenggelam memasuki informasi-informasi baru yang semakin menarik hatiku. Sampai waktu berjam-jam aku habiskan dan aku belum menemukan apa yang aku cari tapi aku memperoleh banyak sekali informasi yang justru tidak seperti yang aku butuhkan dan aku cari.

Ya, imajinasiku telah memerankan diri menjadi seseorang yang terlalu haus informasi tanpa bisa aku mengendalikannya. Yang tadinya tunduk dan diam menuruti apa mauku, tapi setelah melihat yang tersaji di dunia maya ini, seolah imajinasiku menemukan dunianya kembali dan tanpa ampun lagi dia keluar dari kekanganku untuk membebaskan dirinya sebebas-bebasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

A ku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!" Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku. Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa. Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang t...

Aku Tak Habis Pikir

Aku Tak Habis Pikir Di dunia ini segala sesuatu berjalan dengan sangat teratur, kata orang yang memang mengamati segala sesuatunya dari kacamata alam semesta jagat raya dan seisinya. Kalau yang mengatakan sebaliknya biasanya orang tersebut sedang mengalami krisis keduniawian/ kebendaan/ kematerian, dimana kemampuan matanya memandang hal di dunia ini hanya sebatas jangkauan panca indera yang notabene sangatlah teramat terbatas sekali. Keteraturan yang ada di alam ini hanya bisa diamati dengan penglihatan secara global menyeluruh dengan melibatkan berbagai peralatan canggih, bahkan harus sangat canggih baik peralatan dari luar diri kita maupun peralatan yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri kita manusia. Peralatan canggih dari luar diri kita tentu merupakan alat yang bisa menjangkau secara maksimal (sesuai era/zaman yang sedang berjalan) objek-objek yang menjadi bahan pengamatan yang sistematis dan berkesinambungan dari dari jaman sebelumnya hingga detik ini (sekarang/ waktu yang...

Lelahku Bertumpu Pada Awan

  Tak lama berselang aku dalam kegelapan, Aku terlelap dalam keheningan, Terpuruk dalam keheningan, Terhempas ku dalam kehampaan, Tak terlukiskan betapa tak nyamannya ruangku kini, Aku kehabisan nafas kehidupan yang sebenarnya. Langkah kakiku bak tak menapak di permukaan tanah, Laksana terbang tanpa arah dan tujuan, Aku terbang ke sana-kemari entah sampai kapan, Tak kurasakan dekatnya ujung harapan kan datang, Belum ku cium aroma keindahan yang pernah kuharapkan, Semakin terasa jauh saja kesunyian ini menjeratku. Aku sebenarnya berusaha tuk tak hanya diam, Tapi sejauh kaki ku melangkah yang kudapati hanya kelam, Tak terpapar jelas masa depan itu kapan datang, Berlari ku hanya di tempat itu-itu saja, Berlaluku tak melampaui batas mimpi dan anganku, Aku sampai bosan merasakan ini semua. Dan angin perubahan dimana-mana di dengungkan, Tapi kau lihat saja aku masih tak kemana, Aku masih di sini bersama sang fajar yang terkadang hadir menemaniku, Jika malam berganti dengan sang bula...