Skip to main content

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

Aku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!"
Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku.

Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa.

Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang tua. Aku hanya bisa menangis malam itu. Aku ingin membela ibuku yang hanya menangis tanpa melawan. Tapi bentakan bapak bagai halilintar di teligaku.

Aku pernah merasakan bagaimana bapakku memukul kepalaku. Sakit sekali. Aku hanya bisa berlari menghampiri ibu. Dan ibu pun tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa memelukku dan berusaha melindungiku dari pukulan bapak berikutnya. Lega sebenarnya jika bapak sedang tidak ada dirumah. Bapak bisa beberapa hari pergi dari rumah dan tidak pernah pulang. Jika dirumah pun tidak pernah lebih dari dua hari. Entah apa yang bapak lakukan di luar sana. Aku pernah sekali mengikuti kemana bapak pergi. Tapi langkahku terhenti saat bapak naik Metro Mini jurusan Pasar Senen. Aku hanya bisa memandang bapak pergi begitu saja tanpa peduli aku ada dibelakangnya mengikuti.

Sore ini aku benar-benar gembira sekali, karena aku bisa menjual koran sampai habis tanpa harus menjadi peminta-minta lagi di perempatan Coca-cola Cempaka Mas. Ibuku pernah marah besar saat tahu bahwa aku ikut teman-temanku menjadi peminta-minta di jalanan. Padahal aku pernah melihat bapakku hanya tersenyum saja saat melihat aksiku meminta-minta pada pengendara mobil yang berhenti di lampu merah. Lalu bapakku melangkah pergi berlalu begitu saja tanpa berkata apa-apa.

Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa jajan makanan, terkadang beli mainan layang-layang. Sementara aku tidak mampu untuk itu. Mau meminta kepada ibuku aku tidak tega. Karena ibuku susah payah mengumpulkan uang agar aku bisa makan dan sekolah. Bulan ini saja aku terlambat membayar uang sekolah. Kata ibu nanti jika ibu dapat duit baru dibayar biaya sekolahmu nak. Aku hanya diam saja. Meski aku sering merasa malu setiap mata ibu guru menatapku, seolah meminta agar uang sekolahku dibayar secepatnya, atau kamu akan ku keluarkan dari sekolah. Begitu pikirku.

Akhirnya aku tidak mau lagi meminta-minta dari orang. Aku tidak mau mengecewakan ibuku yang kuliat sudah terlalu sering di kecewakan bapakku. Kenapa bapakku tega melakukan itu. Aku juga tidak tahu. Beberapa bulan yang lalu Ruly salah satu temanku yang berjualan koran menawariku untuk ikut berjualan koran saja. Aku takut ibuku akan melarangku, aku juga takut jika koran yang kujual tidak laku. Tapi entah kenapa aku tiba-tiba mau saja saat Ruly memperkenalkan aku dengan Ngkoh yang punya lapak koran banyak. Kata Ruly Ngkoh itu orangnya baik. Suka menolong orang yang kerja keras dengan ikut menjualkan korannya. Aku bilang tidak punya uang untuk membeli korannya. Ngkoh bilang kamu bawa saja dulu 5 lembar koran untuk kamu jual, jika habis kamu baru bayar lalu boleh ambil lagi sesukamu. Jika tidak habis terjual boleh dikembalikan.

Aku berjualan koran sehabis pulang sekolah hingga sore hari, terkadang sampai maghrib baru pulang. Ibuku tidak tahu kalo aku berjualan koran dan aku tidak mau memberitaunya karena takut ibuku marah-marah kepadaku. Ternyata enak juga berjualan koran. Aku sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang mengendari kendaraan di jalan, saat aku menjadi peminta-minta, sehingga tidak sulit bagiku untuk menawarkan kepada mereka. Ada perasaan bangga saat aku bisa menawarkan koran dan di beli oleh orang. Bukan kepalang senangnya aku saat Ngkoh memberikan aku bagian dari keuntungan jual koran. Padahal hari-hari pertama tidak lebih dari sepuluh koran aku jual, tapi saat pertama kali Ngkoh memberikan uang hasil jualanku, aku melonjak kegirangan. Aku berterimakasih sekali pada Ngkoh hingga aku mencium tangannya. Aku berlari menghampiri Ruly dan berteriak kegirangan.

Tadi siang hingga sore hari aku benar-benar sangat gembira sekali. Baru satu jam aku menawarkan koran sudah 15 lembar terjual. Aku berlari ketempa Ngkoh untuk meminta tambahan koran lagi, tapi kata Ngkoh koran sudah habis, tapi kalau mau aku bisa menjualkan majalah dan beberapa tabloid yang masih ada. Aku setuju saja. Aku kembali beraksi dengan menawarkan kepada orang-orang. Semangatku tiba-tiba begitu besar sekali. Dan hampir semua majalah dan tabloid yang aku bawa terjual. Aaaah....aku hebat bisa menjual banyak hari ini. Aku bisa kaya kalau begini. Aku berlari ke tempat Ngkoh dan menerima banyak uang. Aku belikan Ruly Es krim kesukaannya. Lalu kami pun pulang.

Aku berlari kegirangan dengan banyak uang disaku celanaku. Aku berlari bak kesetanan, ingin cepat sampai rumah. Aku ingin berbagi kesenanganku ini dengan ibu. Aku ingin sekali ibuku bisa ikut senang dan bangga dengan kegembiraanku ini. Sudah lama aku tidak bisa membuat ibu merasa senang. Aku lupa dengan rasa takutku dimarahi ibu.

Aku tak perduli orang-orang terheran-heran melihat tingkahku. Aku terus berlari pulang.
Aku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!"
Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku.

Sesampai dirumah aku langsung masuk ke dalam. Ibu aku dapat uang banyak. Aku dapat uang banyak. Ini bu lihatlah. Aku keluarkan semua uangku dari saku celanaku sampai tak bersisa satupun. Aku tak sempat menghitungnya ada berapa, yang jelas banyak sekali bagiku saat itu.

Ibuku hanya tersenyum. Entah mengapa ibuku tidak bertanya darimana uang ini kudapat. Ibuku kulihat hanya berkaca-kaca dan setitik air matanya menetes. Ibu hanya memandangku. Terus memandangku. Entah apa yang dipikirkan ibu. Kenapa ibu tidak merasa senang. Ada apa Bu?

Ibu menarik tanganku sehingga aku berada dekat dihadapannya. Dan dia terus memandangku dengan menangis. Kenapa ibu menangis? Kenapa bu? Aku tidak meminta-minta Bu. Aku jualan koran. Aku tidak memberitahu ibu karena aku takut ibu akan marah kepadaku. Ibu kenapa? Ibu marah kalau saya jualan koran? Ibu marah jika aku mencari uang? Ibu...aku tak bisa berkata lagi karena tak bisa menahan tangisku. Aku menangis melihat ibuku. Aku merangsek dalam pelukan ibuku. Aku dengar ibuku juga terisak menahan tangis.

Kenapa bu?

Anakku...aku sudah tahu kamu beberapa hari ini berjualan koran. Aku tahu karena kemarin bapakmu memberitahu ibu. Ibu tidak marah sama kamu nak. Tidak. Bahkan ibu bangga dengan apa yang kamu lakukan. Bapakmu juga bangga dengan apa yang kamu lakukan.

Apa? Bapak bangga dengan apa yang aku lakukan bu! Kenapa? Bukannya bapak selama ini selalu menyakiti ibu. Bukannya bapak selama ini sering memukuli ibu?

Nak. Bapakmu memang akhir-akhir ini sedang kesulitan mendapatkan uang. Pekerjaan bapakmu sedang dirundung banyak masalah. Jadi bapak marah itu karena banyak masalah.

Tapi kenapa bapak jarang pulang bu? DAn kalau di rumah tidak lebih dari dua hari.

Nak. Suatu saat kau akan tahu yang sebenarnya tentang bapakmu. Dan harus kamu ingat nak. Bagaimanapun kamu tidak boleh membenci bapakmu. Karena dia adalah ayahmu.

Tapi bu, kenapa bapak sering memukuliku jika sayang kepadaku, kenapa?

Sssst...sudah. Itu karena bapakmu sedang banyak masalah. Bapakmu disana juga punya tanggungan selain kita.

Maksud ibu apa?

Sudahlah. Suatu saat kamu akan tahu yang sebenarnya. Sekarang yang lebih penting segera kemasi barang-barangmu.

Kenapa bu? Kenapa harus mengemasi barang-barangku? Ada apa bu?

Begini nak. Ibu sudah terlambat beberapa bulan membayar kontrakan rumah. Ibu tidak ada uang lagi. Uang sisa untuk jualan nasi besok juga sudah ibu bayarkan semua tapi belum cukup untuk melunasinya. Jadi kita harus keluar dari rumah ini besok pagi.

Tapi bu, aku punya uang banyak. Lalu aku berlari ke belakang mengambil celengan kaleng berukuran besar yang kusimpan dibawah kolong tempat tidurku. Aku tunjukkan kepada ibuku. Aku tumpahkan semua isinya. Dan banyak sekali uang yang sudah aku kumpulkan. Aku tidak tahu uang itu untuk apa nantinya, tapi aku ingin jadi orang kaya yang banyak uang untuk menyenangkan hati ibuku.

Ibuku menangis terharu melihat tingkahku. Aku tidak peduli dan terus saja merapikan uang yang berserakan dilantai itu. Aku tidak bisa menghitung lagi jumlahnya. Aku hanya ingin menunjukkan pada ibu bahwa kita tidak harus pindah dari rumah ini karena aku sudah punya uang banyak untuk membayarnya. Aku tidak ingin melihat ibuku sedih lagi. Aku ingin sekali melihat ibuku tersenyum gembira. Aku akan melakukan apapun untuk itu.

Ini bu. Coba ibu hitung. banyak kan? Cukupkan untuk membayar kontrakan rumah. Ambillah bu. Besok aku akan menjual koran yang lebih banyak lagi untuk ibu. Jangan pindah ya bu? Kita tetap tinggal disini saja ya?

Sepenggal kisah dari anak jalanan di salah satu sudut ibukota. Di tulis oleh Ari Windarto tanggal 2 Juli 2011 jam 01.42 WIB.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tentang Aku Dan Keakuanku

Catatan Tentang Aku Dan Keakuanku Merasakan hal yang hanya ada dalam pikiran. Antara sebuah kenyataan dan angan yang hanya terpisah oleh sekat yang sangat tipis. Tapi saat sebuah kenyataan itu benar-benar tak seperti harapan, maka buyarlah angan-angan. Mungkin dia pergi hanya untuk sesaat saja, lalu tak lama dia akan kembali lagi menjadi hiasan dan teman hidup sehari-hari. Memasuki dunia angan dan imajinasi bagiku adalah hal yang menyenangkan di saat dunia seolah tak berpihak kepadaku. Mungkin karena aku bukan pemain sandiwara dunia yang baik. Atau mungkin karena aku hanyalah bagian dari sisi dunia yang terpinggirkan, dimana sebenarnya aku sendiri yang sering memposisikan diriku manjadi penonton saja. Bukan pelaku atau pemeran utama. Dunia itu nyata dalam  dimensi ruang dan waktu. Dan aku termasuk satu dari sekian banyak pengisi ruang dan waktu. Aku ada dan nyata. Aku eksis. Aku bisa di lihat, di raba, di dengar suaranya, di sakiti perasaannya karena aku juga punya hati, dibua...

Di antara menunggu dan harap

Menunggu bisa terasa membosankan dan waktu terasa begitu lama.... Semakin terasa membosankan jika aku hanya diam sambil melirik jam tangan... Tapi yg kutunggu adalah jalan rezekiku... Yg kutunggu adalah perpanjangan nafas kehidupanku... Yg kutunggu akan memberikan kado hadiah hasil jerih payahku... Yg kutunggu adalah harapanku... Yg kutunggu adalah pembeli daganganku... Yg kutunggu adalah pemakai jasaku... Dan ku yakinkan agar ku tak bosan menunggu hingga ujung waktu... .... Dalam ku menunggu aku selalu berharap dan selalu berharap... Bukan...bukan menunggu dan diam tanpa berupaya...Sebagai manusia terkadang memang aku di hadapkan pada sebuah persoalan...Mana yg lebih baik dari berbagai pilihan yg terhampar di hadapanku...Kalau semua pun terlihat baik atau kalau yg ada menurutku tidak ada yg baik...Aku tetap harus menjatuhkan sebuah pilihan... ... Dan menunggu jika hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi... Apa dayaku yang hanya memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata,...

Hanya Bertahan

Bukan untuk sebuah mimpi yang terindah aku melakukan ini semua. Aku hanya inginkan sebuah hal yang nyata hadir dan ada. Aku bukan seonggok karang yang setiap saat harus menerima hempasan ombak tanpa ada usaha untuk mengelak. Jika memang kenyataan tidak berpihak kepadaku pasti karena aku yang tidak memahami akan roda kehidupan yang sedang berputar tanpa pernah berhenti dan selalu berubah. Tapi aku tak mau menjadi korban dari setiap perubahan yang tanpa arah yang jelas bagi langkah dan jalan yang akan aku tempuh. Biar aku tentukan jalan mana yang akan aku jadikan arah langkahku. Jika kesempurnaan memang bagian dari diriku dalam segala ketidak sempurnaanku maka aku memang benar-benar manusia yang membutuhkan dan di butuhkan. Aku mengalir dan ada dalam alam nyata. Setiap hal yang menghampiriku adalah bagian yang harus dan seharusnya ku hadapi tanpa banyak tanya yang justru akan menyudutkan aku pada satu kondisi bimbang. Padahal hanya di butuhkan sebuah keyakinan yang kuat untuk menjadi ...