Skip to main content

Maafkan Keputusanku Bukan Kamu





Malam lalu mungkin adalah saat aku merasakan hal yang kuanggap telah menempatkan diriku pada posisi yang teramat sulit untuk hubungan kita yang telah terjalin sekian lama. Kau begitu memojokkan aku. Kau seolah tak memberi kesempatan kepadaku untuk sejenak berpikir. Kau begitu memaksakan diri untuk segera tahu apa jawabanku atas perasaan ini kepadamu. Dan aku tahu bahwa perasaanku kepadamu sebenarnya diantara kebimbangan antara hubungan pertemanan biasa ataukah lebih dari itu.

Sebenarnya aku ingin mengatakan ini dari dulu sebelum aku bertemu dengan seseorang yang kini telah ku anggap cocok untuk menjadi calon pendamping hidupku. Seseorang yang telah kuputuskan untuk menjadi seorang yang istimewa di hidupku. Bukan berarti kamu ku anggap tidak istimewa, tapi juga bukan berarti aku bisa untuk menganggapmu menjadi lebih dari seorang teman atau sahabat. kau tetap ku anggap sebagai sahabatku. Sahabat yang selama ini selalu menjagaku, mendampingiku saat aku rapuh.

Mungkin kau menganggap keputusanku terasa tidak adil bagimu. Kenapa aku malah memilih orang lain sebagai kekasihku. Mengapa bukan memilihmu yang selama ini ku akui selalu lekat dan dekat denganku. Kenapa justru aku lebih memilih orang lain yang tak pernah merasakan bagaimana melihat aku terjatuh, menangis sedih, terpuruk oleh kegagalan, dan hal lainnya. Karena saat itu hanya ada kau yang selalu mendampingiku.

Kenapa aku lebih memilih dia? Mungkin itu yang juga ingin kamu pertanyakan saat itu kepadaku. Dan kau tak sempat mengatakan itu karena emosi yang telah begitu besar meluap saat itu. Maafkan aku Sobat.

Bagaimanapun aku juga tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya bukan kepadamu. Kenapa aku justru menjatuhkan pilihan untuk menempatkan hati dan hidupku kepadanya bukan kepadamu. Tiba-tiba dia hadir dalam kehidupanku hanya dalam beberapa waktu. Dan aku benar-benar merasa nyaman jika ada dia dan yang kurasakan berbeda dengan rasa saat aku pernah bersandar di bahumu, saat aku menangis di hadapanmu, saat aku menumpahkan segala kegalauan hidupku kepadamu. Sangat berbeda.

Aku juga tak bisa jika aku harus mencintaimu lebih dari sekedar sahabat baik, teman baik. Apalagi saat kau tanyakan kepadaku sebenarnya bagaimana perasaanku kepadamu saat ini. Aku tidak bisa menjawabnya, sungguh. Aku harap kau mau mengerti Sobat.

Maafkan aku tak bisa mencintaimu. Maafkan aku tak bisa menjadi pengharapanmu akan rasa cinta ini. Aku menyayangimu tapi bukan untuk menjadikanmu pendamping hidupku, bukan. Tapi jujur aku tak bisa jika harus mengatakan aku menolak rasa cintamu. Aku tak sanggup itu. Sumpah aku tak kan pernah sanggup.

Maafkan aku ya Sob yang tak bisa menyerahkan rasa cinta ini kepadamu. Maafkan aku yang tak memungkinkanmu untuk memilikiku seutuhnya. Sekali lagi maafkan aku.


Baca juga :

Comments

Popular posts from this blog

Komputer Internet Dan Bisnis Online Membuatku Menjadi Orang Gila Yang Hampir Saja Tidak Ada Obat Untuk Menyembuhkannya Selain Sesegera Mungkin Untuk Online

Ari Windarto - Komputer, Internet, Dan Bisnis Online Membuatku Menjadi Orang Gila Yang Hampir Saja Tidak Ada Obat Untuk Menyembuhkannya Selain Sesegera Mungkin Untuk Online. Bisa di pastikan saat aku berada di rumah atau di kerjaan tak akan bisa aku lepas dari internet. Jika di rumah jelas aku bebas untuk berinternet ria mencari dan melakukan apa saja melalui media online ini. Berbeda kalau aku di tempat kerja amak aku melakukan online yang ada hubungannya dengan pekerjaan yang aku hadapi. Aneh yang aku rasakan adalah kalau dalam sehari saja aku tidak bersentuhan dengan komputer dan internet rasanya ada yang kurang dan perasaan menjadi gelisah setengah modar / mati. Apapun akan aku lakukan untuk bisa menyentuh barang sebentar saja komputer yang ada di samping tempat tidur reyot kesayanganku. Nah kalau sudah begini jadinya bukan hanya sebentar aku memegang komputer, malah yang terjadi aku akan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan monitor sambil online. Ah....dont disturb me ...

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

A ku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!" Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku. Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa. Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang t...