Skip to main content

Di antara menunggu dan harap

Menunggu bisa terasa membosankan dan waktu terasa begitu lama....
Semakin terasa membosankan jika aku hanya diam sambil melirik jam tangan...
Tapi yg kutunggu adalah jalan rezekiku...
Yg kutunggu adalah perpanjangan nafas kehidupanku...
Yg kutunggu akan memberikan kado hadiah hasil jerih payahku...
Yg kutunggu adalah harapanku...
Yg kutunggu adalah pembeli daganganku...
Yg kutunggu adalah pemakai jasaku...
Dan ku yakinkan agar ku tak bosan menunggu hingga ujung waktu...
....
Dalam ku menunggu aku selalu berharap dan selalu berharap...
Bukan...bukan menunggu dan diam tanpa berupaya...Sebagai manusia terkadang memang aku di hadapkan pada sebuah persoalan...Mana yg lebih baik dari berbagai pilihan yg terhampar di hadapanku...Kalau semua pun terlihat baik atau kalau yg ada menurutku tidak ada yg baik...Aku tetap harus menjatuhkan sebuah pilihan...
...
Dan menunggu jika hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi...
Apa dayaku yang hanya memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata, satu mulut, satu...raga
Yg memiliki banyak sekali keinginan tapi tak bisa untuk memenuhi semuanya...
Yg telah berusaha sebisa mungkin untuk menjadi manusia biasa yg berpikir luar biasa...
Yg telah mengupayakan segala upaya sebatas raga manusia bisa meraihnya...
Kini aku hanya berupaya selalu menjadi manusia biasa saja...
Aku tidak ingin menjadi manusia yg luar biasa jika itu hanya menyiksaku...Aku telah dan akan tetap menjadi pribadi yg ini di kehidupanku...
Inilah aku dan aku tidak berusaha menunjukkan siapa aku kepada siapapun...
...
Aku adalah jiwa dan raga...
Jiwaku mungkin memiliki keluwesan dalam perubahannya...
Tapi ragaku hanya mengikuti usia yg dulu muda dan semakin lama semakin renta...
...


Baca juga :

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

A ku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!" Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku. Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa. Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang t...

Aku Tak Habis Pikir

Aku Tak Habis Pikir Di dunia ini segala sesuatu berjalan dengan sangat teratur, kata orang yang memang mengamati segala sesuatunya dari kacamata alam semesta jagat raya dan seisinya. Kalau yang mengatakan sebaliknya biasanya orang tersebut sedang mengalami krisis keduniawian/ kebendaan/ kematerian, dimana kemampuan matanya memandang hal di dunia ini hanya sebatas jangkauan panca indera yang notabene sangatlah teramat terbatas sekali. Keteraturan yang ada di alam ini hanya bisa diamati dengan penglihatan secara global menyeluruh dengan melibatkan berbagai peralatan canggih, bahkan harus sangat canggih baik peralatan dari luar diri kita maupun peralatan yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri kita manusia. Peralatan canggih dari luar diri kita tentu merupakan alat yang bisa menjangkau secara maksimal (sesuai era/zaman yang sedang berjalan) objek-objek yang menjadi bahan pengamatan yang sistematis dan berkesinambungan dari dari jaman sebelumnya hingga detik ini (sekarang/ waktu yang...

Lelahku Bertumpu Pada Awan

  Tak lama berselang aku dalam kegelapan, Aku terlelap dalam keheningan, Terpuruk dalam keheningan, Terhempas ku dalam kehampaan, Tak terlukiskan betapa tak nyamannya ruangku kini, Aku kehabisan nafas kehidupan yang sebenarnya. Langkah kakiku bak tak menapak di permukaan tanah, Laksana terbang tanpa arah dan tujuan, Aku terbang ke sana-kemari entah sampai kapan, Tak kurasakan dekatnya ujung harapan kan datang, Belum ku cium aroma keindahan yang pernah kuharapkan, Semakin terasa jauh saja kesunyian ini menjeratku. Aku sebenarnya berusaha tuk tak hanya diam, Tapi sejauh kaki ku melangkah yang kudapati hanya kelam, Tak terpapar jelas masa depan itu kapan datang, Berlari ku hanya di tempat itu-itu saja, Berlaluku tak melampaui batas mimpi dan anganku, Aku sampai bosan merasakan ini semua. Dan angin perubahan dimana-mana di dengungkan, Tapi kau lihat saja aku masih tak kemana, Aku masih di sini bersama sang fajar yang terkadang hadir menemaniku, Jika malam berganti dengan sang bula...