Skip to main content

Sedetik Baru ku Sadar



Sedetik Baru ku Sadar - Tiba-tiba mataku terpejam dan seolah aku berada dalam alam yang aku sendiri belum pernah menemuinya.

Aku berdiri di depan sebuah cermin, dan melalui cermin itu aku bisa melihat kilasan-kilasan masa laluku yang sepertinya sengaja di tunjukkan padaku. Seperti baru terjadi kemarin semua yang aku lihat melalui cermin ajaib itu. Sepertinya umurku begitu cepat berlalu seiring waktu yang juga tak pernah mau kompromi menggerogoti sisa-sisa umurku.

Aku melihat ada banyak hal yang aku sendiri tidak menyadari pernah melakukan itu semua. Aku melihat diriku sendiri dengan tingkah polahku semasa dulu aku jalani kehidupan. Aku seperti melihat dan di bawa kembali ke masa itu.

Ah...malunya aku tatkala aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa kadang aku bertingkah gila, tak tahu malu. Tapi aku tahu saat itu aku hanya melakukan saja tanpa bisa aku kendalikan.

Bruk...tiba-tiba cermin itu lenyap dan aku terbangun dari tidurku. Tak ada apa-apa. Hanya cahaya lampu kamarku terasa begitu menyilaukan mataku yang baru saja terbuka dari kegelapan.

Sedetik baru ku sadar bahwa aku telah melewatkan banyak waktu tanpa berbuat apa-apa dan tanpa menghasilkan apa-apa, dan kini aku tak menjadi apa-apa selain menjadi manusia yang hanya butuh makan, tidur dan kerja.

Rutinitas yang bisa melenakan aku dari berjalannya sang waktu dan berkurangnya usiaku.


Kau mungkin bisa mencari blog ini melalui google search dengan mengetikkan : sedetik baru ku sadar, ari windarto sedetik baru ku sadar, tulisanku sedetik...



Baca juga :

Comments

Popular posts from this blog

Maafkan Keputusanku Bukan Kamu

M alam lalu mungkin adalah saat aku merasakan hal yang kuanggap telah menempatkan diriku pada posisi yang teramat sulit untuk hubungan kita yang telah terjalin sekian lama. Kau begitu memojokkan aku. Kau seolah tak memberi kesempatan kepadaku untuk sejenak berpikir. Kau begitu memaksakan diri untuk segera tahu apa jawabanku atas perasaan ini kepadamu. Dan aku tahu bahwa perasaanku kepadamu sebenarnya diantara kebimbangan antara hubungan pertemanan biasa ataukah lebih dari itu. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini dari dulu sebelum aku bertemu dengan seseorang yang kini telah ku anggap cocok untuk menjadi calon pendamping hidupku. Seseorang yang telah kuputuskan untuk menjadi seorang yang istimewa di hidupku. Bukan berarti kamu ku anggap tidak istimewa, tapi juga bukan berarti aku bisa untuk menganggapmu menjadi lebih dari seorang teman atau sahabat. kau tetap ku anggap sebagai sahabatku. Sahabat yang selama ini selalu menjagaku, mendampingiku saat aku rapuh. Mungkin kau menganggap...

Komputer Internet Dan Bisnis Online Membuatku Menjadi Orang Gila Yang Hampir Saja Tidak Ada Obat Untuk Menyembuhkannya Selain Sesegera Mungkin Untuk Online

Ari Windarto - Komputer, Internet, Dan Bisnis Online Membuatku Menjadi Orang Gila Yang Hampir Saja Tidak Ada Obat Untuk Menyembuhkannya Selain Sesegera Mungkin Untuk Online. Bisa di pastikan saat aku berada di rumah atau di kerjaan tak akan bisa aku lepas dari internet. Jika di rumah jelas aku bebas untuk berinternet ria mencari dan melakukan apa saja melalui media online ini. Berbeda kalau aku di tempat kerja amak aku melakukan online yang ada hubungannya dengan pekerjaan yang aku hadapi. Aneh yang aku rasakan adalah kalau dalam sehari saja aku tidak bersentuhan dengan komputer dan internet rasanya ada yang kurang dan perasaan menjadi gelisah setengah modar / mati. Apapun akan aku lakukan untuk bisa menyentuh barang sebentar saja komputer yang ada di samping tempat tidur reyot kesayanganku. Nah kalau sudah begini jadinya bukan hanya sebentar aku memegang komputer, malah yang terjadi aku akan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan monitor sambil online. Ah....dont disturb me ...

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

A ku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!" Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku. Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa. Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang t...