Skip to main content

Di Ujung Malam

Di ujung malam aku terdiam terpaku
Tak ada kawan menemaniku di ujung malam
Haruskah malam terlewat dalam kelam
Haruskah malam berlalu begitu saja tanpa arti
Jelang pagi tak berhenti sang waktu berdetak

Aku berlari mengejar ketinggalanku
Aku teringgal oleh jelaga usia yang sudah tak muda lagi
Aku terlalu egois untuk mengerti akan cerahnya malam yang menungguku berhias dzikir dan doa
Aku terlalu mencintai duniaku yang terlanjur mengikatku tanpa bisa aku kendalikan
Aku seperti tertambat dengan indahnya gemerlap dunia yang semakin mengajakku untuk bercinta

Jejak langkahku yang tertinggal menyelimuti malam kelamku
Di ujung malam yang hampir saja berakhir
Di waktu aku sedang asyik dengan kegundahan akan dilema kehidupan
Sementara sang waktu tak mau berhenti walau sejenak
Memakan sebagian dari sisa usiaku hingga habis kelak

Jangan biarkan aku terlalu tenggelam dalam temaramnya dunia yang menyilaukan
Jangan biarkan aku terlalu mencintai dan berharap untuk yang terindah dari dunia
Dimana tak ada keindahan yang sesungguhnya aku jumpai sekalipun
Yang ada hanyalah kehilangan sesuatu yang sudah ada dalam genggaman setiap saat

Tak ada yang bisa sepenuhnya aku miliki dari apa yang ada di sini
Aku seperti memegang sesuatu yang licin
Sebentar bisa aku dapatkan tapi tak lama terlepas kembali
Tak ada yang abadi di dunia ini
Dan bagiku ini adalah sumber dari penderitaan yang tak terperikan

Di ujung malam aku masih berharap untuk bisa menatap kembali jalan terang
Jalan yang akan mengantarkan aku kepada Sang Empunya Segala Dunia
Bukan jalan yang hanya mengantarku kepada kesesatan dan ketidak pastian
Aku ingin kebali menelusuri pahit getirnya menapaki jalan kebenaran
Diujung malam aku masih dan akan terus berharap datangnya keindahan.


Baca juga :

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

A ku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!" Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku. Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa. Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang t...

Aku Tak Habis Pikir

Aku Tak Habis Pikir Di dunia ini segala sesuatu berjalan dengan sangat teratur, kata orang yang memang mengamati segala sesuatunya dari kacamata alam semesta jagat raya dan seisinya. Kalau yang mengatakan sebaliknya biasanya orang tersebut sedang mengalami krisis keduniawian/ kebendaan/ kematerian, dimana kemampuan matanya memandang hal di dunia ini hanya sebatas jangkauan panca indera yang notabene sangatlah teramat terbatas sekali. Keteraturan yang ada di alam ini hanya bisa diamati dengan penglihatan secara global menyeluruh dengan melibatkan berbagai peralatan canggih, bahkan harus sangat canggih baik peralatan dari luar diri kita maupun peralatan yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri kita manusia. Peralatan canggih dari luar diri kita tentu merupakan alat yang bisa menjangkau secara maksimal (sesuai era/zaman yang sedang berjalan) objek-objek yang menjadi bahan pengamatan yang sistematis dan berkesinambungan dari dari jaman sebelumnya hingga detik ini (sekarang/ waktu yang...

Lelahku Bertumpu Pada Awan

  Tak lama berselang aku dalam kegelapan, Aku terlelap dalam keheningan, Terpuruk dalam keheningan, Terhempas ku dalam kehampaan, Tak terlukiskan betapa tak nyamannya ruangku kini, Aku kehabisan nafas kehidupan yang sebenarnya. Langkah kakiku bak tak menapak di permukaan tanah, Laksana terbang tanpa arah dan tujuan, Aku terbang ke sana-kemari entah sampai kapan, Tak kurasakan dekatnya ujung harapan kan datang, Belum ku cium aroma keindahan yang pernah kuharapkan, Semakin terasa jauh saja kesunyian ini menjeratku. Aku sebenarnya berusaha tuk tak hanya diam, Tapi sejauh kaki ku melangkah yang kudapati hanya kelam, Tak terpapar jelas masa depan itu kapan datang, Berlari ku hanya di tempat itu-itu saja, Berlaluku tak melampaui batas mimpi dan anganku, Aku sampai bosan merasakan ini semua. Dan angin perubahan dimana-mana di dengungkan, Tapi kau lihat saja aku masih tak kemana, Aku masih di sini bersama sang fajar yang terkadang hadir menemaniku, Jika malam berganti dengan sang bula...