Skip to main content

Sekali lagi maafkan aku

Aku tak pernah mengerti kamu. Aku tak pernah mau tahu apa yang kau mau. Aku sering melupakan kamu ada di sampingku selalu. Aku selalu menjadikanmu bagian yang jauh dari duniaku. Aku telah membuatmu tak merasa tepat berada di sampingku. Aku tak pernah menempatkan dirimu dalam perhatian penuhku saat kau ada di dekatku. Sekali lagi maafkan aku.

Aku selalu membuat hal yang tak pernah bisa kau pahami. Aku sering membiarkanmu menunggu lama di sela kesibukanku. Aku sering melupakan senyum manis yang dulu menjadi andalanku untuk memikat hatimu. Aku terlalu hidup dalam duniaku. Aku terlalu tekun dengan kesenanganku. Aku terlalu tenggelam dalam hal-hal yang menjauhkanku darimu. Aku selalu ingin menikmati sendiri saat kau hadir disini. Aku selalu ingin kau mau mengertikan aku dalam segala tingkahku. Sekali lagi maafkan aku.

Jika kau mau tahu yang sebenarnya.

Aku selalu ingin kau ada saat aku merasa tiba-tiba kebimbangan melanda dan menderaku. Aku ingin kau ada saat aku resah seorang diri. Aku ingin kau ada saat aku menginginkan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku. Aku ingin kau ada. Selalu. Setiap saat.

Cukup keberadaanmu disampingku sudah cukup untuk meredakan itu semua. Cukup kau di sampingku untuk meredam semua kegilaanku.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tentang Aku Dan Keakuanku

Catatan Tentang Aku Dan Keakuanku Merasakan hal yang hanya ada dalam pikiran. Antara sebuah kenyataan dan angan yang hanya terpisah oleh sekat yang sangat tipis. Tapi saat sebuah kenyataan itu benar-benar tak seperti harapan, maka buyarlah angan-angan. Mungkin dia pergi hanya untuk sesaat saja, lalu tak lama dia akan kembali lagi menjadi hiasan dan teman hidup sehari-hari. Memasuki dunia angan dan imajinasi bagiku adalah hal yang menyenangkan di saat dunia seolah tak berpihak kepadaku. Mungkin karena aku bukan pemain sandiwara dunia yang baik. Atau mungkin karena aku hanyalah bagian dari sisi dunia yang terpinggirkan, dimana sebenarnya aku sendiri yang sering memposisikan diriku manjadi penonton saja. Bukan pelaku atau pemeran utama. Dunia itu nyata dalam  dimensi ruang dan waktu. Dan aku termasuk satu dari sekian banyak pengisi ruang dan waktu. Aku ada dan nyata. Aku eksis. Aku bisa di lihat, di raba, di dengar suaranya, di sakiti perasaannya karena aku juga punya hati, dibua...

Di antara menunggu dan harap

Menunggu bisa terasa membosankan dan waktu terasa begitu lama.... Semakin terasa membosankan jika aku hanya diam sambil melirik jam tangan... Tapi yg kutunggu adalah jalan rezekiku... Yg kutunggu adalah perpanjangan nafas kehidupanku... Yg kutunggu akan memberikan kado hadiah hasil jerih payahku... Yg kutunggu adalah harapanku... Yg kutunggu adalah pembeli daganganku... Yg kutunggu adalah pemakai jasaku... Dan ku yakinkan agar ku tak bosan menunggu hingga ujung waktu... .... Dalam ku menunggu aku selalu berharap dan selalu berharap... Bukan...bukan menunggu dan diam tanpa berupaya...Sebagai manusia terkadang memang aku di hadapkan pada sebuah persoalan...Mana yg lebih baik dari berbagai pilihan yg terhampar di hadapanku...Kalau semua pun terlihat baik atau kalau yg ada menurutku tidak ada yg baik...Aku tetap harus menjatuhkan sebuah pilihan... ... Dan menunggu jika hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi... Apa dayaku yang hanya memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata,...

Hanya Bertahan

Bukan untuk sebuah mimpi yang terindah aku melakukan ini semua. Aku hanya inginkan sebuah hal yang nyata hadir dan ada. Aku bukan seonggok karang yang setiap saat harus menerima hempasan ombak tanpa ada usaha untuk mengelak. Jika memang kenyataan tidak berpihak kepadaku pasti karena aku yang tidak memahami akan roda kehidupan yang sedang berputar tanpa pernah berhenti dan selalu berubah. Tapi aku tak mau menjadi korban dari setiap perubahan yang tanpa arah yang jelas bagi langkah dan jalan yang akan aku tempuh. Biar aku tentukan jalan mana yang akan aku jadikan arah langkahku. Jika kesempurnaan memang bagian dari diriku dalam segala ketidak sempurnaanku maka aku memang benar-benar manusia yang membutuhkan dan di butuhkan. Aku mengalir dan ada dalam alam nyata. Setiap hal yang menghampiriku adalah bagian yang harus dan seharusnya ku hadapi tanpa banyak tanya yang justru akan menyudutkan aku pada satu kondisi bimbang. Padahal hanya di butuhkan sebuah keyakinan yang kuat untuk menjadi ...