Skip to main content

Aku Dan Kamu Memang Berbeda

Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu tentang kejadian semalam. Tapi keburu kau pergi tanpa mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk bisa meyakinkanmu tentang hal ini. Dan aku tahu sebenarnya kau pasti mengerti keberadaanku dalam masalah ini. Tapi kau keburu salah paham sebelum semua bisa aku jelaskan padamu malam itu.

Aku mengerti jika saat ini kamu lebih memilih untuk menyendiri. Dan aku tahu kau akan mengusirku jika aku pergi mencarimu. Dan aku tahu itu. Karena kau sering lakukan itu padaku dulu. Makanya aku lebih memilih untuk diam dulu menunggu semua ini reda. Sampai kamu merasa benar-benar bisa menerima semua ini kembali.

Kamu tahu. Ini tidak jauh beda dengan kejadian yang pernah bahkan sering terjadi di antara kita. 

Dan kita tahu bahwa semua ini akan berakhir dengan hal yang sama. Kau atau aku yang akan memulai untuk saling bicara. Meski harus seperti orang yang baru pertama kenal. Masih sama-sama jaim. Tapi itu tak berlangsung lama. Hanya sesaat dan kemudian menjadi seperti biasa lagi. Karena kita tahu bahwa kita saling membutuhkan. Kita saling sayang. Kita saling cinta. Dan kita belajar untuk saling memahami satu sama lain.

Kita sama-sama tahu bahwa bagaimanapun kita beda. Dari adat saja sudah jelas beda. Dari status dilihat dari sudut manapun kita ini seperti langit dan bumi. Jauh banget. Dari soal pendidikan, kamu sarjana dan aku hanya tamatan SD. Kamu dari keluarga sedikit bangsawan, ya Cuma sedikit saja. Karena yang bangsawan dan punya jalur darah biru itu adalah saudara dari saudaranya mertua dari suami saudara bapak kamu. Tapi anehnya kita bisa bersatu.

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Bocah Jalanan

A ku berlari menyusuri gang sempit, becek yang sering kulewati. Sesekali menabrak orang yang sedang asik berjalan, bahkan sempat aku menyenggol barang bawaan seorang ibu tua hingga hampir terjatuh, " maaf Bu..!!" Aku terus berlari hingga ujung gang. Dan aku berhenti di rumahku. Rumahku bukanlah istana megah, gedung bertingkat. Tapi rumahku adalah sebuah bangunan semi permanen yang bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Tapi mau bagaimana lagi, ibuku hanya berjualan nasi uduk tiap pagi. Sorenya jika kesehatan ibu agak baik, ibu membuat gorengan lalu dijual. Tidak bisa banyak karena uang hasil jualan nasi udukpun tak seberapa. Ibuku adalah wanita yang tangguh. Sudah tiga setengah tahun ditinggal pergi bapak entah kemana. Aku sebenarnya kangen untuk ketemu sama bapak, tapi mengingat kejadian malam itu, saat bapak dengan kasarnya memukuli ibu, aku jadi benci dengan bapak. Entah kenapa bapak sampai memukuli ibu seperti itu. Kata bapak aku tidak boleh ikut campur urusan orang t...

Aku Tak Habis Pikir

Aku Tak Habis Pikir Di dunia ini segala sesuatu berjalan dengan sangat teratur, kata orang yang memang mengamati segala sesuatunya dari kacamata alam semesta jagat raya dan seisinya. Kalau yang mengatakan sebaliknya biasanya orang tersebut sedang mengalami krisis keduniawian/ kebendaan/ kematerian, dimana kemampuan matanya memandang hal di dunia ini hanya sebatas jangkauan panca indera yang notabene sangatlah teramat terbatas sekali. Keteraturan yang ada di alam ini hanya bisa diamati dengan penglihatan secara global menyeluruh dengan melibatkan berbagai peralatan canggih, bahkan harus sangat canggih baik peralatan dari luar diri kita maupun peralatan yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri kita manusia. Peralatan canggih dari luar diri kita tentu merupakan alat yang bisa menjangkau secara maksimal (sesuai era/zaman yang sedang berjalan) objek-objek yang menjadi bahan pengamatan yang sistematis dan berkesinambungan dari dari jaman sebelumnya hingga detik ini (sekarang/ waktu yang...

Lelahku Bertumpu Pada Awan

  Tak lama berselang aku dalam kegelapan, Aku terlelap dalam keheningan, Terpuruk dalam keheningan, Terhempas ku dalam kehampaan, Tak terlukiskan betapa tak nyamannya ruangku kini, Aku kehabisan nafas kehidupan yang sebenarnya. Langkah kakiku bak tak menapak di permukaan tanah, Laksana terbang tanpa arah dan tujuan, Aku terbang ke sana-kemari entah sampai kapan, Tak kurasakan dekatnya ujung harapan kan datang, Belum ku cium aroma keindahan yang pernah kuharapkan, Semakin terasa jauh saja kesunyian ini menjeratku. Aku sebenarnya berusaha tuk tak hanya diam, Tapi sejauh kaki ku melangkah yang kudapati hanya kelam, Tak terpapar jelas masa depan itu kapan datang, Berlari ku hanya di tempat itu-itu saja, Berlaluku tak melampaui batas mimpi dan anganku, Aku sampai bosan merasakan ini semua. Dan angin perubahan dimana-mana di dengungkan, Tapi kau lihat saja aku masih tak kemana, Aku masih di sini bersama sang fajar yang terkadang hadir menemaniku, Jika malam berganti dengan sang bula...